# Kapan Terakhir Kali Kamu Googling?
Oleh Roma, Series "Setelah Google"
Kapan terakhir kamu ketik kata kunci di Google.com, lalu scroll sepuluh link biru satu-satu sampai nemu yang pas?
Kalau Saya udah jarang. Sekarang kalau butuh sesuatu, langsung buka ChatGPT atau Gemini, lebih seringnya pakai Claude buat ngoding. Dari pergeseran kecil kayak gini lahir istilah yang lagi rame dibahas: GEO, singkatan dari Generative Engine Optimization (ada yang nyebutnya Generative Search Optimization juga, sama aja, cuma beda penyebutan). Mungkin kamu udah mikir, "ah istilah marketing doang, nggak nyambung sama hidup saya." Boleh aja skeptis dulu. Tapi coba baca sampai habis, nanti kita cek lagi apa pendapatmu masih sama.
# SEO Dulu, Biar Nggak Bingung
Sebelum lanjut, kita samain dulu pemahaman soal SEO, soalnya dua hal ini bakal terus dibandingin.
SEO, Search Engine Optimization, intinya bikin halaman web muncul di posisi atas pas orang nyari sesuatu di Google. Caranya: riset kata kunci, bangun reputasi lewat link dari situs lain, perbaiki kecepatan situs. Tujuannya satu, orang klik dan masuk ke website kamu. Selama lebih dari dua dekade, ini jalan utama dapet pengunjung gratis.
Tapi kalau sekarang orang udah jarang klik, apa dengan SEO saja sudah cukup? Itu pertanyaan yang bikin GEO muncul.
# Bedanya GEO
GEO itu praktik bikin konten supaya AI generatif macam ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, atau AI Overviews di Google, lebih gampang ngerti, percaya, dan akhirnya ngutip atau merekomendasikan kontenmu pas jawab pertanyaan orang lain.
Analoginya gini: bayangin kamu baru pindah ke kota baru, lagi nyari tempat makan enak. Ada spanduk gede di pinggir jalan yang teriak "paling enak se-kota", ada juga teman yang kamu percaya bilang "coba ke sini deh, enak". Kebanyakan orang lebih percaya yang kedua kan? SEO ya kayak spanduk itu, GEO lebih ke posisi direkomendasikan langsung.
Cara kerja mesinnya juga beda. Google klasik nyodorin daftar link, kamu sendiri yang pilih dan baca. AI generatif beda, dia baca banyak sumber, racik jadi satu, lalu langsung kasih satu jawaban utuh, seringnya tanpa nyebut sumber secara terang-terangan kecuali formatnya memang mendukung sitasi.
# Lihat Perbandingannya
| Aspek | SEO | GEO |
|---|---|---|
| Target utama | Mesin pencari klasik seperti Google dan Bing | AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, AI Overviews |
| Tujuan akhir | Rank tinggi dan dapat klik ke website | Disebut, dikutip, atau direkomendasikan langsung di jawaban AI |
| Cara mengukur sukses | Posisi ranking, jumlah klik, jumlah pengunjung | Seberapa sering brand atau kontenmu disebut AI saat ditanya hal relevan |
| Gaya nulis yang disukai | Padat kata kunci, dioptimasi buat algoritma ranking | Jawaban langsung di awal, padat fakta, mudah dipotong dan dikutip |
| Modal yang dibangun | Backlink, reputasi domain, kecepatan situs | Struktur yang rapi, konsistensi fakta, kredibilitas yang diakui banyak sumber |
| Bisa berhasil tanpa orang klik website kamu? | Jarang | Sering banget |
Beda istilah doang atau beda strategi sungguhan? Lihat saja tabelnya. Tapi bukan berarti musuhan kok, modal yang dibangun lewat SEO (reputasi kredibel, struktur rapi) tetap kepake di GEO.
# Angka-angka yang Bikin Saya Mikir Ulang
Biar nggak cuma teori kosong, ini beberapa data yang waktu pertama baca, saya sampai baca ulang buat mastiin nggak salah lihat.
Ahrefs nemu, sekitar 28,3 persen halaman yang paling sering dikutip ChatGPT itu ternyata sama sekali nggak nongol di hasil pencarian organik Google. Kurang dari 10 persen sumber yang dikutip ChatGPT, Gemini, dan Copilot itu bahkan masuk 10 besar Google buat pertanyaan yang sama. Jagoan di Google belum tentu jagoan di mata AI, dan kebalikannya juga berlaku.
Soal klik, zero-click search (pencarian yang selesai tanpa orang klik link apa pun) sekarang kejadian di hampir 60 persen dari seluruh pencarian di Google.
Jadi capek-capek bikin artikel SEO, ada kemungkinan besar pembacanya cuma lewat sekilas lewat ringkasan AI, nggak pernah benar-benar mampir. Yang paling bikin geleng-geleng: sesi kunjungan website dari referral AI generatif melonjak 527 persen year-over-year, cuma dalam lima bulan pertama 2025. Gartner sendiri memprediksi volume pencarian tradisional bisa turun 25 sampai 30 persen di akhir 2026.
# Buat yang Ngerasa "Ah, Ini Bukan Bidang Saya"
Pertanyaan ini pasti masih ngendap dari awal artikel. Oke, kita bahas satu-satu.
Kalau kamu mahasiswa: jujur saja, kebiasaan riset tugas kamu kemungkinan udah ikut bergeser ke AI generatif juga kan? Justru karena itu, ngerti gimana AI milih sumber yang dipercaya bikin kamu lebih kritis baca jawabannya.
Kalau kamu profesional, coba tanya diri sendiri, seberapa sering orang lain googling nama kamu atau cari rekomendasi di bidang yang kamu kuasai? Portofolio, tulisan di LinkedIn, profil kerja, sekarang bisa ikut "dibaca" dan dikutip AI pas orang lain nanya soal keahlianmu.
Kalau kamu lagi bikin usaha sampingan atau side project, ini malah peluang. Konten berbahasa Indonesia yang ngebahas topik ini secara mendalam masih jarang, jadi yang belajar dan praktik lebih awal punya kesempatan lebih besar dikenal lewat AI.
# SEO Mati? Enggak Gitu Juga
Ini pertanyaan paling sering muncul, dan jawaban jujurnya: enggak.
GEO bukan pengganti SEO, dia lapisan strategi tambahan yang melengkapi. AI generatif sendiri masih banyak ngandelin sinyal yang sama dengan mesin pencari tradisional, kayak kredibilitas sumber, konsistensi informasi, reputasi domain.
SEO menjaga kamu tetap kelihatan di hasil pencarian klasik. GEO menjaga kamu tetap relevan di percakapan AI. Dua-duanya jalan bareng, bukan pilih salah satu.
# Praktiknya Gimana?
Beberapa hal yang bisa langsung dicoba, entah kamu developer yang ngurus blog sendiri, mahasiswa, pemilik UMKM, atau tim marketing kantoran.
- Jawab pertanyaan di awal tulisan itu wajib. Bayangin orang cuma baca tiga baris pertama lalu pergi, apa mereka udah dapet jawaban inti? Kalau belum, ubah urutannya.
- Struktur juga ngaruh: heading jelas, pecah ke list atau tabel kalau memang pas, jangan dipaksain.
- Sertain data. Coba hapus semua angka dari klaimmu, masih kedengeran meyakinkan nggak? Kalau enggak, berarti perlu bukti tambahan.
- E-E-A-T (experience, expertise, authoritativeness, trustworthiness) itu istilah teknis, tapi intinya simpel: nulis dari sudut pandang yang emang ngerti topiknya.
- Format tanya-jawab lumayan membantu, soalnya mirip cara orang nanya ke AI.
- Ada juga sisi teknis kayak structured data atau schema markup, biar mesin lebih ngerti konteks halaman.
Satu lagi yang sering kelewat, jaga konsistensi nama brand atau topik di seluruh konten, dan update berkala. AI generatif suka info yang masih segar.
# Coba Sendiri, Jangan Cuma Percaya Saya
Saya nggak mau kamu cuma percaya semua yang saya tulis tanpa bukti langsung. Coba buka ChatGPT, Gemini, atau Perplexity sekarang, tanyain sesuatu yang berhubungan sama diri kamu, bisnismu, kampusmu, atau topik yang kamu kuasai.
Gimana hasilnya? Nama, tulisan, atau brand kamu ikut disebut, atau malah sama sekali nggak nongol?
Kalau belum muncul, jangan kecewa dulu. Itu artinya kamu sekarang punya gambaran jelas mau mulai dari mana, dan udah selangkah lebih maju dibanding kebanyakan orang yang bahkan belum tahu cara ngukurnya.
# Penutup
Balik ke pertanyaan awal: kapan terakhir kamu beneran googling? Bandingin sama hari ini, sudah berapa kali kamu nanya langsung ke AI?
Kalau jawabannya "lebih sering ke AI", itu sinyal buat mulai audit kontenmu sendiri sekarang, bukan nanti. Cek satu artikel yang paling penting buat brand atau usahamu, lalu tanya ke ChatGPT atau Perplexity apakah dia tahu soal itu. Kalau belum, itu titik awal yang jelas buat dibenerin.
Lanjut baca artikel lain di series Setelah Google buat panduan praktis nerapin GEO di konten yang udah kamu punya.
Komentar
Diskusi belum dimulai — kamu bisa mengawalinya.
Ditinjau sebelum tampil. Tanggapan sopan dan relevan.
Tulis Komentar
Wajib diisi ditandai *
Diskusi
↑ TulisMemuat komentar…
Belum ada yang bersuara di sini. Jadilah pemicu diskusinya.
Tinggalkan komentar pertamamu →